Tips Mengembangkan Bakat dan Minat Anak Sejak Dini

By Suzanna Juwita - October 5, 2021
Tips Mengembangkan Bakat dan Minat Anak Sejak Dini

Bakat adalah suatu potensi tersembunyi yang ada dalam diri seorang anak, yang perlu diasah dan dikembangkan, untuk dapat digunakan melakukan hal-hal tertentu. Dengan kata lain, bakat merupakan suatu kemampuan yang sudah ada sejak lahir, biasanya karena faktor keturunan. Umumnya, orang yang memiliki bakat dibidang tertentu dapat memahami dan melakukan suatu hal dengan lebih cepat dan lebih baik dibandingkan dengan orang lain.

Sementara itu, minat adalah suatu ketertarikan yang dimiliki seseorang pada bidang tertentu. Biasanya orang yang berminat terhadap suatu hal, akan merasa enjoy dan menikmati kegiatan tersebut. Minat yang dimiliki oleh seseorang dapat berubah-ubah seiring berjalannya waktu dan sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan.

Dalam pengalaman praktik saya, orangtua kerap bertanya, “apakah anak usia dini bisa diberikan tes bakat minat?”. Saat ini, saya mendapati semakin banyak orangtua yang penasaran dan ingin anaknya melakukan tes minat bakat bahkan sejak usia prasekolah. 

Tidak ada yang salah dengan itu, karena pada dasarnya, para orangtua berharap agar dapat memberikan arahan terbaik bagi anak. Namun menurut saya, anak usia dini belum perlu melakukan tes minat bakat. Alih-Alih terburu-buru melakukan tes bakat minat untuk anak, orangtua diharapkan dapat membantu Si kecil untuk eksplorasi minat dan bakatnya lebih dulu. Bagaimana caranya? Mari simak tipsnya:

1. Berikan anak pengalaman yang bervariasi

Salah satu cara terbaik menemukan minat bakat anak adalah dengan memberi kesempatan padanya untuk terlibat di dalam berbagai jenis aktivitas. Bagaimana kita tahu anak kita suka musik jika tidak pernah diperdengarkan lagu atau diajak bernyanyi bersama? Atau, bagaimana kita tahu anak kita memiliki bakat menggambar jika tidak pernah mencoba untuk menggambar?. Eksplorasi ini dapat dilakukan dengan cara yang formal misalnya mengikut sertakan anak dalam kursus tertentu maupun informal yaitu melalui kegiatan bermain di rumah seperti main sepeda, puzzle, memasak, pretend play. Berikan pilihan pada anak kegiatan apa yang ingin mereka coba lakukan. 

2. Amati saat anak bermain

Jika orangtua jeli, sebenarnya proses bermain anak sehari-hari bisa memberi insight mengenai minat dan bakat anak. Kegiatan apa sih yang paling membuat anak bersemangat dan bisa bertahan lama untuk melakukannya? Hal apa yang paling suka anak minta atau ceritakan berulang-ulang? Perhatikan juga cara ia bermain dengan anak lain, bisa jadi bakat anak berkaitan dengan melakukan interaksi sosial dengan anak lain atau menjadi sosok pemimpin di antara teman-temannya. 

 3. Lakukan diskusi bersama anak tentang dirinya

Bagi anak-anak yang duduk di sekolah dasar, orangtua mulai dapat mengajak mereka berdiskusi dan melakukan komunikasi dua arah agar orang tua semakin memahami hal-hal yang disukai anak. Beberapa pertanyaan yang dapat diajukan oleh orangtua antara lain: Kegiatan apa yang paling kamu sukai? Apakah kamu menikmati kegiatan di luar ruangan dan bergerak? Jika bisa memilih, kamu lebih suka berlama-lama menggambar dan mewarnai, atau bermain puzzle? Menurut kamu, permainan apa yang mudah bagi kamu dan bisa kamu lakukan dengan baik? Apa kamu tahu apa yang menjadi kelebihanmu? Apakah kamu suka pelajaran yang banyak hapalannya?  

 4. Amati kegiatan favorit anak

Selain mengamati kegiatan bermain dan mengetahui minat anak secara umum, orangtua juga dapat mengamati bakat akademis anak. Salah satunya dengan cara mengamati pelajaran yang paling disukai sekaligus dikuasai oleh anak, buku atau film bertema apa yang ia sukai. Jika diasah dan ditekuni dengan baik maka tidak menutup kemungkinan, ketika dewasa, anak dapat memilih karir yang sejalan dengan bakat dan minatnya sejak ia masih kecil.

 5.  Bebaskan anak menentukan pilihan

Sebagian orangtua, mungkin pernah memiliki obsesi tertentu yang tidak tercapai dan berharap, kelak anak mereka dapat meneruskan keinginan, cita-cita dan harapan dari orangtua di masa lalu. Alih-alih memaksakan anak mengikuti keinginan orangtua. Orangtua diharapkan dapat memberikan kebebasan pada anak untuk memilih bidang, kegiatan atau aktivitas yang benar-benar ia sukai dan sesuai dengan minat anak.