Connect with Elderly

By Arief Liang - October 11, 2021
Connect with Elderly

Apa yang muncul dalam pemikiran Anda jika saya mengatakan “lansia”?

Berbagai pandangan kita mengenai lansia tidak selalu sesuai dengan kebenarannya. Untuk itu, tentu saja kita perlu mengenal siapakah itu lansia sebelum berbicara mengenai bagaimana berhubungan dengan mereka.

Lansia merupakan singkatan dari “lanjut usia.” Orang-orang yang termasuk dalam lansia adalah yang sudah berusia 60 tahun ke atas. Biasanya kita juga menyebut lansia sebagai dewasa akhir dalam istilah psikologi. Secara umum, perubahan yang terjadi dalam rentang usia ini meliputi perubahan fisik, kognitif, dan sosioemosional. Perubahan yang terjadi secara alami pada lansia umumnya berjalan setahap demi setahap. Jika diperhatikan, perubahan yang dialami satu lansia dengan yang lain mungkin berbeda, terdapat pula beberapa yang sama.

Dalam aspek perubahan fisik, lansia sudah mengalami penurunan dalam kemampuan-kemampuan fisik. Misalnya, penglihatan sudah mulai rabun akibat katarak, atau rabun dekat. Ada juga yang sudah mengalami penurunan kemampuan gerak refleks dan elastisitas otot. Selain itu, sistem kekebalan tubuh juga sudah mulai menurun di masa dewasa akhir. Oleh karena itu, banyak di antara mereka yang lebih sering mengalami penyakit, ada yang lebih rentan terhadap alergi, atau muncul keluhan-keluhan ketika terjadi perubahan cuaca/musim (misalnya persendian terasa pegal, flu, atau gatal-gatal).

Berbicara mengenai perubahan kognitif, bukan berarti lansia mengalami penurunan dalam aspek ini secara keseluruhan. Memang beberapa di antara mereka sulit mengingat informasi-informasi baru. Ada pula yang sulit mempelajari keterampilan yang baru. Namun, keterampilan yang pernah dipelajari masih diingat oleh mereka. Jika kemampuan fisiknya masih memungkinkan, mereka pun dapat melakukan hal-hal tersebut, seperti membersihkan ruangan, menggunakan mesin cuci, memasak atau merajut.

Dalam lingkungan sosial, pada dasarnya lansia sama seperti orang-orang pada umumnya. Ada yang senang bergaul, ada juga yang tidak. Pertanyaannya, ada apa di balik itu semua? Di masa dewasa akhir, sangat umum lansia sudah mengalami rasa kesepian akibat semakin jarangnya berinteraksi dengan anggota keluarga dan sahabat. Ketika anak-anak mereka sudah beranjak dewasa dan membangun keluarga sendiri, beberapa di antaranya tinggal di rumah terpisah, terkadang ada juga yang berbeda kota atau Negara. Selain itu, ada pula lansia yang mengalami kesepian dan kehilangan karena kerabatnya sudah meninggal. Belum lagi keterbatasan fisik dan kemampuan bekerja yang dapat memicu perasaan tidak berdaya dan lebih mengandalkan orang lain.

Keterbatasan-keterbatasan yang tampak dapat diterima oleh beberapa lansia. Mereka dapat memandangnya sebagai bagian dari proses kehidupan dan tetap memberdayakan hal-hal yang masih dapat dikerjakan. Bagi beberapa lansia lainnya, keterbatasan ini dapat memicu kecemasan, rasa tertekan, tidak berdaya, dan kesepian. Perasaan-perasaan negatif ini mempengaruhi cara mereka menyikapi kehidupan, tutur kata, dan tindakan. Oleh karena itu, generasi yang lebih muda perlu memahami hal-hal yang ada di balik sikap, tutur kata, dan cara lansia bertindak. Dengan demikian, generasi muda akan lebih mudah menyesuaikan diri saat berinteraksi dengan lansia. Bagi lansia, mereka akan merasa dipahami dan diterima apa adanya.

Lalu, bagaimana cara berinteraksi dengan lansia, agar mereka merasa dipahami dan diterima? Terdapat asumsi lansia sama seperti anak-anak, mereka ingin lebih dimengerti dan dituruti keinginannya. Namun hal itu tidak sepenuhnya benar. Mereka adalah generasi yang ada di atas kita dan berusia lebih dewasa, sehingga kita perlu menghormatinya. Ketika menunjukkan rasa hormat, mereka akan merasa dihargai dan merespons dengan cara yang serupa. Ada baiknya kita tanyakan bagaimana mereka ingin dipanggil. Ada yang senang dipanggil opa/oma, nenek/kakek, ada juga eyang, om/tante, dan masih banyak lagi. Menggunakan panggilan yang sesuai memudahkan kita untuk menjalin relasi yang lebih akrab dengan mereka.

Betul sekali, beberapa lansia senang memberikan nasihat. Memberi nasihat merupakan tindakan untuk mengekspresikan kasih sayang dan kepedulian. Ketika kita menunjukkan kesediaan menerima nasihat, lansia akan merasa berdaya melalui aktivitas memberi. Terkadang ada pula nasihat yang disisipkan dalam ceramah. Ketika kita memperhatikan dan mendengarkan, mereka akan merasa nyaman dalam interaksi yang terjadi. Generasi muda pun perlu belajar dari mereka yang sudah lebih berpengalaman dalam kehidupan.

Selain belajar dari pengalaman lansia, generasi muda dapat memperkenalkan hal-hal yang ada di masa kini kepada mereka. Bagi lansia yang senang belajar dan tertarik pada hal-hal baru, tentunya hal ini akan sangat menyenangkan. Misalnya kita dapat memperkenalkan smartphone, menggunakan aplikasi meeting untuk berkomunikasi dengan teman lama, atau cara memasak resep baru. Kesuksesan sekecil apapun dapat mendatangkan kepuasan bagi mereka yang mempelajarinya. Mereka akan merasa mampu dalam keterbatasan yang dialami.

Saat berkomunikasi dengan lansia, kita dapat mendiskusikan penghayatan mereka dalam kehidupan. Mulai dari bagaimana sikap mereka terhadap keterbatasan, kesuksesannya, hingga hal-hal yang masih dapat diberdayakan. Pemahaman mereka mengenai hal ini dapat mengubah pola berpikirnya menjadi lebih positif. Melakukan hal-hal yang mereka sukai juga dapat memberi makna dalam kehidupan. Beberapa lansia pun ingin memfokuskan diri pada kerohanian atau aspek spiritual. Kita dapat menanyakan bagaimana perasaan mereka selama melakukan aktivitas rohani maupun spiritual, sehingga mereka merasa kehidupannya lebih bermakna.

Banyak sekali cara yang dapat kita terapkan untuk berinteraksi dengan lansia. Walaupun tidak semudah membalikkan telapak tangan, setiap proses yang terjadi akan membantu kita dan lansia untuk saling memahami. Tentunya kesabaran dan kesediaan untuk memahami sangat diperlukan saat kita berinteraksi dengan lansia.